5 Tanggapan soal Heboh Wisata ke Borobudur Haram, Ganjar hingga MUI

Ustaz Sofyan Chalid membikin heboh dengan menyebut berwisata ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah adalah haram. Pernyataan tersebut pun mendapat tanggapan dari sejumlah pihak yang tidak sependapat.

Dalam video unggahan tahun 2018 yang kemudian kembali ramai diperbincangkan itu, Ustaz Chalid membacakan pertanyaan terkait hukum berwisata ke Candi Borobudur.

“Hukumnya haram, karena itu termasuk persetujuan terhadap peribadahan mereka makanya kita tidak boleh duduk-duduk bersama orang yang ‘menghina’ agama. Allah mengatakan kalau kamu duduk bersama mereka kamu seperti mereka,” jawab Sofyan seperti dikutip detikcom dalam video tersebut, Senin (13/9/2021).

Hal ini menuai tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia hingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo:

1. MUI Jateng

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji menyebut kedatangan ke Candi Borobudur tergantung niatnya. Jika niatnya untuk ibadah, maka haram bagi muslim.

“Kita ke Borobudur mau wisata apa mau ibadah? Kan dilihat niatnya,” kata Darodji saat dihubungi detikcom,Selasa (14/9).

“Kalau kita (muslim) ikut ibadah (agama lain), nah itu salah,” tegasnya.

Baca juga:

MUI Jateng soal Wisata ke Candi Borobudur Haram: Lihat Niatnya

Darodji menyebut mendatangi Candi Borobudur merupakan salah satu cara mengagumi teknologi di masa lalu. Darodji mengatakan Candi Borobudur merupakan salah satu maha karya nenek moyang berupa ilmu.

2. Ganjar Pranowo

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebut siapa saja bisa datang ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

“Boleh siapapun, agama apapun datang,” kata Ganjar kepada detikcom saat ditemui di kantornya, Semarang, Selasa (14/9/2021).

Ganjar lalu menyinggung kunjungan Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong XVI Al-Sultan Abdullah Al-Mustafa Billah Shah Ibni Almarhum Sultan Haji Ahmad Shah Al-Musta’in Billah yang pernah wisata ke Candi Borobudur bersama keluarganya pada 2019 lalu. Ganjar menyebut Raja Malaysia yang beragama Islam itu pun mengagumi keindahan Candi Borobudur.

“Yang di-Pertuan Agong, Raja Malaysia, yang negaranya begitu (muslim) aja datang kok,” tegasnya.

3. Balai Konservasi Borobudur

Balai Konservasi Borobudur (BKB) turut berkomentar. Mereka mengaku hanya menjalankan tugas.

“BKB bekerja atas UU cagar budaya dan aturan yang berlaku. Pemanfaatan cagar budaya sesuai UU cagar budaya antara lain agama, pendidikan, kebudayaan, terus untuk pariwisata,” kata Pamong Budaya Ahli Madya BKB, Yudi Suhartono, mengawali wawancara di kantornya, Selasa (14/9/2021).

Keberadaan Candi Borobudur yang digunakan untuk kegiatan keagamaan hal tersebut sesuai dengan pemanfaatan cagar budaya. Untuk itu, setiap kegiatan keagamaan di Candi Borobudur akan dilayani sesuai dengan aturan yang berlaku.

4. Seniman NU

KetuaLembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Magelang, Jateng, Abbet Nugroho, buka suara.

“Saya sangat tidak setuju atas pernyataan ustaz (Sofyan Chalid) tersebut. Pernyataan ustaz tersebut sangat tidak mencerminkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin bahwa sesungguhnya Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam,” kata Abbet dalam pesannya kepada detikcom, Selasa (14/9).

Abbet yang tinggal di sekitar Candi Borobudur mengatakan, di dalam Islam dikenalkan konsep persaudaraan/ukhuwah yaitu ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat. Kemudian, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama bangsa serta ukhuwah basyariyah atau persaudaraan sesama umat manusia.

5. PP Muhammadiyah

Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyesalkan pendapat Ustaz Sofyan Chalid yang mengharamkan wisata ke Candi Borobudur. Muhammadiyah melihat Sofyan Chalid kurang referensi dalam beragama.

“Sama sekali tidak ada larangan dalam Al-Qur’an. Berwisata itu mubah atau diperbolehkan,” kata Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar, saat dihubungi detikcom, Selasa (14/9).

Syamsul mengimbau masyarakat untuk tidak memahami Al-Qur’an sepotong-potong. Tapi harus komprehensif dari berbagai sudut pandang.

“Soal itu peninggalan agama lain ya kita anggap saja itu sebuah history (sejarah),” katanya.

Foto: Candi Borobudur (Foto: iStock)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *