Idap Guillain-Barre Syndrome, Akhirnya Guru Susan Dirujuk ke RSUD Palabuhanratu

Susan Antela (31) Guru SMAN 1 Cisolok, Kabupaten Sukabumi yang mengalami kelumpuhan dan kehilangan penglihatan usai melakukan vaksin COVID-19 tahap dua telah mendapatkan diagnosa mengidap sindrom langka Guillain Barre Syndrome (GBS).

 

Sempat mendapat penanganan di RSHS Hasan Sadikin, Bandung keluarga mendapat kabar dari tim medis, penanganan lanjutan diserahkan ke RSUD Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

“Kami dapat informasi rujuk ke RSUD Palabuhanratu, kata tim medis mereka kasihan dengan kondisi si teteh (Susan). Karena kalau ke Bandung jauh,” kata Yayu yang saat ini berada di RSHS Bandung mengantar sang kakak, Selasa (4/5/2021).

Dikatakan Yayu, mereka mendapat rujukan sekaligus hasil diagnosa yang menyatakan Susan didiagnosa menderita Guillain Barre Syndrome (GBS).

“Kata pihak medis RSHS, obat-obatan juga tersedia di RSUD Palabuhanratu. Sebelumnya memang kami pihak keluarga inginnya tetap di RSHS karena fasilitas dan pelayanannya. Keluarga enggak apa-apa sih asal benar-benar di perhatikan segala sesuatunya selama proses pengobatan sampai teh Susan sembuh kembali,” jelas Yayu.

Sebelumnya diberitakan, keluarga Susan Antela (31) guru honorer SMAN 1 Cisolok, Kabupaten Sukabumi mengaku memilih pasrah dengan rangkaian kronologi dan cerita yang disampaikan pihak Komda KIPI Jabar kepada Komnas KIPI.

Yayu (26) adik Susan menyebut rangkaian cerita yang menyebut kakaknya mengeluhkan keburaman mata dan kelemahan anggota gerak setelah 12 jam pascaimuniasi disebutnya kurang tepat.

“Cerita dan kronologinya kurang tepat, dari awal kepada sejumlah media sudah dijelaskan bahkan saksi-saksinya juga banyak. Keluhan dirasakan setelah 15 menit vaksin dilakukan, mulai dari pusing, mual, lemas hingga buram dirasakan saat itu juga masih di lokasi vaksin,” kata Yayu melalui sambungan telepon, Senin (3/5/2021).

Foto: Guru Susan (Foto: Syahdan Alamsyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *