Mardani: Selama Kultur Riset Tidak Masuk Kurikulum Dasar, BRIN Berpotensi Gagal

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei harus diresapi sebagai momentum menata kembali aspek riset guna menghadirkan berbagai inovasi. Riset merupakan sesuatu yang all out, diperlukan pemimpin yang memiliki kompetensi dan punya integritas serta kualitas.

“Sudah adakah di negeri kita?” tanya Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, Senin (3/5).

Sebuah bangsa, sambungnya, akan maju apabila pengetahuan menjadi modal utamanya. Untuk itu, pengetahuan harus menjadi isu publik, mulai dari level RT hingga presiden.

Mardani mengingatkan bahwa selama kultur riset ini tidak dimasukkan pada kurikulum dasar, maka Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berpotensi gagal.

“Inovasi artinya ide, maka pastikan dulu kurikulum pendidikan negara kita memang tumbuh untuk menghasilkan peneliti-peneliti yang mumpuni,” sambung anggota Komisi II DPR RI itu.

Menurutnya, jika berkaca pada negara-negara tetangga, yang lebih mendorong kontribusi swasta itu lebih besar,  Indonesia lebih dari 11 tahun budget risetnya masih sangat kecil, sekitar 0,82 persen dan itu tidak bergerak rasio terhadap PDB.

Sementara di China sudah 2,2 persen, bahkan Amerika dan Jepang hampir 4 persen.

“Membuat sebuah riset haruslah tuntas. Terkadang keliru karena orientasi kita terhadap riset hanya untuk membuat sebuah kebijakan,” tegasnya.

“Padahal riset itu bagaimana berkontribusi, pertama secara akademis, kemudian kontribusi untuk sektor bisnis, dalam arti inovasi. Baru yang ketiga kita berbicara tentang kebijakan,” demikian Mardani. 

Foto: Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera/Net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *