Menkeu Prediksi RI Masuk Resesi Ekonomi, Arief Poyuono : Mbak Sri Mesti Sering Turun Ke Pasar

Tekanan besar yang dialami perekonomian akibat pandemik Covid-19 telah membuat sekelas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati pun merasa pesimistis. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu justru memprediksi Indonesia akan masuk zona resesi ekonomi

Memang, berdasarkan hitungan ekonometrika dan asumsi-asumsi keadaan sosial, pertumbuhan ekonomi pada kuartal 3 dan 4 akan berada di kisaran 1,4 persen sampai negatif 1,6 persen.

Hitungan tersebut didapat dengan asumsi tingkat konsumsi masyarakat tidak meningkat saat relaksasi PSBB. Di mana konsumsi masyarakat selama ini merupakan faktor yang menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional. Apalagi 50 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) ditopang dari konsumsi masyarakat.

Namun, menurut Arief Poyuono, jika Sri Mulyani mau melihat dan turun langsung ke masyarakat dan pasar saat PSBB diberlakukan, terlihat bahwa aktivitas perekonomian masyarakat dan pasar khususnya sektor UKM menunjukkan tingkat spending (belanja) masyarakat masih sangat tinggi.

Bahkan, kata Arief Poyuono, secara kasat mata aktivitas belanja masyarakat hanya menurun sekitar 20 persenan, dibandingkan keadaan normal tanpa Covid-19.

“Mbak Sri Mulyani juga harus menambahkan asumsi bahwa Budaya Ekonomi itu sudah melekat di masyarakat Indonesia sejak zaman nenek moyang kita. Contoh kehidupan di daerah atau Jakarta, kita sering melihat tetangga atau kawan lewat depan rumah dan kita memanggil untuk singgah sebentar dan mengajak ngobrol dan minum kopi/teh serta makanan ringan. Nah, kopi atau teh kan harus dibeli dan terjadi spending, iya enggak? Dan kebiasaan itu jarang dipunyai oleh bangsa lain,” tutur Arief Poyuono.

Artinya, lanjut Waketum Partai Gerindra ini,”Kita optimistis setelah relaksasi PSBB dan 7 program bansos disalurkan serta dana penyelamatan ekonomi nasional bisa berjalan cepat pengunaannya ya. Insting saya kok Indonesia tidak akan resesi ekonomi. Malah ekonomi kita akan bertumbuh di atas 3 persenan di kuartal ke 3 dan 4.”

Tambah Arief Poyuono, jika Menteri Keuangan selalu menebar pesimisnya dengan skenario-skenario yang berbasis laporan kertas dan lembaga-lembaga keuangan dunia, yang tidak juga melihat secara langsung kegiatan ekonomi di Indonesia, justru akan berdampak negatif bagi kondisi perekonomian Indonesia.

Seperti membuat investor ragu-ragu atau memilih wait and see untuk masuk ke Indonesia atau meneruskan investasinya di Indonesia yang sempat terhenti di saat Covid-19. Pun terjadi penarikan modal besar besaran dari pasar keuangan dan modal di Indonesia

Ini jadi catatan harusnya, bagi Presiden Joko Widodo dan Tim Ekonomi lainnya, yang selalu kerja keras dan optimis bahwa perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh di saat dampak Covid-19,” demikian Arief Poyuono. (Rmol)

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *