Pedagang, Ojol, hingga Mahasiswa Bandung Demo Tolak PPKM Darurat: Buka Woi Buka!

Ratusan orang terdiri dari pedagang, pengemudi ojek online (ojol), hingga
mahasiswa turun ke jalan menyuarakan penolakan perpanjangan Pemberlakukan
Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 25 Juli 2021. Penolakan ini
karena kebijakan tersebut sangat merugikan dari segi ekonomi.

 

Para pengemudi ojol meneriaki para toko di pinggir jalan untuk tidak takut
membuka tokonya.

“Buka, buka, buka, buka woi,” seru para pengemudi ojol dengan kompak.

Salah satu pedagang yang berjualan di mal Bandung Electronik City (BEC),
Putra (28) mengatakan, sangat merugi dengan pemberlakukan PPKM yang
berlangsung pada 3 Juli hingga 20 Juli. Sebab, para pedagang tidak bisa
berjualan sehingga tidak ada pemasukan sama sekali.

“Kami dirugikan. Kontrakan tetap harus dibayar dan tidak ada keringanan.
Apakah ini solusi? Ada aturan harusnya ada solusi. Istri dan anak saya harus
makan,” ujar Putra saat ikut demo di depan Balai Kota Bandung, Rabu
(21/7/2021).

Berderai air mata, Putra mencurahkan isi hatinya kepada para aparat yang
berjaga di pintu masuk Balai Kota. Dia menyebut bahwa kebijakan PPKM tidak
efektif. Khususnya bagi para pedagang kebijakan ini sangat merugikan.

Dengan adanya penutupan jalan, warga yang ingin datang ke toko di BEC untuk
berbelanja pun kesulitan. Belum lagi penutupan toko sehingga pedagang
bingung mencari cara berjualan.

“Menang duit Rp5.000 ge hese aing” (dapat uang Rp5.000 saja susah)

Dia pun mengkritisi pemerintah yang tidak menyalurkan bantuan sosial
(bansos) secara menyeluruh. Bansos yang ada tidak didapat semua warga
terdampak pandemik COVID-19, padahal PPKM yang dilakukan sudah merugikan
pelaku usaha kecil.

Menurutnya, pejabat pemerintah yang memerintahkan adanya PPKM Darurat bisa
tenang karena masih digaji oleh negara. Sedangkan pelaku usaha dan pekerja
informal lainnya harus kerja keras mencari sesuap nasi.

“Kudu lihat ke bawah. Dulu dipilih ku rakyat, sekarang mana janjinya. Budak
cerik hayang jajan (anak nangis ingin jajan), emang ganpang cari duit,”
pungkasnya.

Sementara itu, salah satu pengendara ojol yang ikut aksi, Galih Azwa
berharap pemerintah segera meniadakan PPKM. Aturan yang berlaku membuat
pengemudi ojol sulit dapat orderan baik penumpang maupun makanan.

Akibat kebijakan itu pula yang memberlakukan penyekatan, banyak ojol yang
kurang mendapat pemasukan. Sebab pengemudi harus berkeliling ketika
mengantar makanan atau penumpang.

“Biasa saya bisa dapat Rp100 per hari, sekarang paling banyak Rp30 ribu.
Bensin juga jadi lebih banyak keluar karena muter-muter cari jalan ditutup
semua,” kata dia. 

Foto: Demonstrasi tolak PPKM di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *