Sektor Perunggasan Sekarat, Fadli Zon Minta Pemerintah Buka Mata: Ini Akan Jadi Kiamat Dunia Perunggasan

Anggota DPR RI, Fadli Zon mendesak pemerintah untuk memperhatikan keadaan pelik di sektor perunggasan nasional.

Melalui cuitan di akun Twitternya, Fadli Zon mengatakan saat ini sektor perunggasan dalam kondisi sekarat.

Harga jual daging dan telur tak sebanding dengan harga pakan ternak yang selangit sehingga membuat para peternak menjerit.

“Sektor perunggasan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, bahkan sekarat. Setiap hari para peternak merugi,” cuit Fadli Zon yang dikutip Galamedia dari akun Twitter @fadlizon, Selasa, 14 September 2021.

“Harga pakan jagung dan pakan jadi tiap hari naik harganya, sementara harga daging ayam dan telur ayam justru turun. Untuk telur bahkan bukan turun lagi tapi nyungsep,” tambahnya.

Fadli juga membeberkan harga yang telah dirilis Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Harga pakan ayam menyentuh Rp 6.000 – Rp 6.200.

Padahal harga acuan konsumen untuk jagung dengan kadar air 15% saat ini Rp 4.500. Harga jagung sudah naik Rp 1.500 – Rp 1.700 per kg dari harga acuan Permendag No. 7/2020.

Permendag No. 7/2020 sudah dengan jelas mengatur harga acuan pembelian jagung, yaitu di tingkat petani Rp 3.150 dan harga acuan penjualan di konsumen Rp 4.500.

“Harga di kandang untuk 1 kg telur saat ini berkisar Rp 14.000 – Rp 15.000. HPP telur untuk harga jagung normal (Rp 4.500, red.) saja sudah Rp 19.000, peternak sudah rugi Rp 5.000 untuk setiap 1 kg telur,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fadli meminta pemerintah khususnya Kementerian Pertanian untuk menyoroti permasalahan ini.

“Pemerintah khususnya @kementan, @Kemendagri_RI dan @PerumBULOG harusnya bisa stabilkan harga dan jamin ketersediaan jagung untuk peternak,” sambungnya.

Menurutnya, jika hal ini tidak segera diperhatikan maka akan jadi kiamat bagi dunia perunggasan nasional.

“Kalau tidak segera dilakukan maka ini akan jadi kiamat buat dunia perunggasan nasional yg sudah swasembada puluhan tahun. Alas hukum untuk menolong para peternak sudah tersedia, Permendag No. 7 Tahun 2020, tinggal dilaksanakan,” ujarnya.

Dalam cuitannya Fadli juga mewakili suara HKTI yang meminta agar pemerintah menyerap kelebihan pasok telur melalui bansos yang diberikan kepada masyarakat.

Penyerapan melalui bansos minimal dilakukan sampai pasar telur kembali normal.

“Usulan lain HKTI, cutting tidak dilakukan pada telur tetas tetapi pada indukan ayam broiler, sehingga meminimalisir rembesan telur tetas ke pasar,” sambungnya.

Menutup cuitannya, Fadli meminta Kementerian Pertanian untuk berperan penting mengatasi permasalahan pelik ini.***

Foto: Politikus Partai Gerindra Fadli Zon/Net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *